Jakarta, Penkogab3 – Tanggal 20 November 2021 terjadi penyerangan ke Distrik Suru-Suru. Yakni sebuah distrik di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kontak tembak berlangsung selama 6 jam. Beberapa rumah dibakar, sehingga masyarakat berbondong-bondong mengungsi mengosongkan Distrik tersebut secara tersebar ke berbagai wilayah Yahukimo, Distrik Obio, dan sebagian bertahan di pegunungan serta hutan.
Sejak penyerangan tersebut, seluruh jalur transportasi dan komunikasi terputus. Tidak hanya masyarakat, aparat pemerintahan, petugas bandara, pelabuhan, kesehatan, dan lainnya meninggalkan Suru-Suru.
“Saat itu hanya pos TNI yang masih bertahan di lokasi untuk mengamankan wilayah,” kata Danyonif Raider 600/Modang Letkol Inf Karuniawan Hanif Arridho dalam keterangan persnya di Balikpapan, Senin (17/7).
Pada 11 Oktober 2022 lalu, Danyonif bersama personelnya mendarat ke Distrik Suru-Suru untuk meyakinkan situasi aman dan meninjau prajurit TNI di Pos Ramil Suru-Suru. Sekaligus mengirimkan dukungan logistik dari Timika ke Suru-Suru menggunakan dua helikopter.
“Kami ingin meyakinkan bahwa situasi aman dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa TNI siap memberikan rasa aman kepada mereka agar tidak takut kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Banyak kenangan dilalui selama 14 bulan bertugas menjalani satgas pamtas di wilayah timur Indonesia tersebut. Ratusan prajurit Satgas Pamtas Yonif Raider 600/Modang yang dikirim ditempatkan ke beberapa wilayah, mulai Merauke, Kabupaten Mappi, Asmat, hingga Kabupaten Yahukimo.
Hingga akhirnya, 450 prajurit itu kembali pulang ke markasnya di Kota Minyak, Senin (17/7). “Alhamdulillah karena rida Allah, semua tantangan dapat kami atasi. Itu semua berkat doa dan dukungan semua, terlebih dari Bapak Pangdam VI/Mulawarman. Alhamdulillah 450 orang yang kami berangkat 14 bulan lalu, semuanya kembali dengan selamat tanpa ada yang gugur,” ucapnya.
Rombongan prajurit datang melalui jalur laut dan tiba di Pelabuhan Semayang Balikpapan. Setibanya di Markas Yonif Raider 600/Modang di Manggar Baru, Balikpapan, para prajurit melakukan sujud syukur karena bisa kembali dengan selamat tanpa kekurangan.
Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Tri Budi Utomo menyambut mereka dengan penuh sukacita. Diungkapkan, karena dinamika di lapangan seharusnya penugasan sembilan bulan, prajurit pun harus menjalankan operasi hingga 14 bulan.
Sebagai proses tradisi, sang jenderal melakukan pengalungan bunga hingga memandikan prajurit dengan air kembang secara simbolis. Atas kinerja dan usaha yang dilakukan, Pangdam memberi apresiasi kepada prajurit karena telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
“Paling menonjol ialah saat menjemput 120 pengungsi Distrik Suru-Suru yang meninggalkan permukiman mereka akibat adanya intimidasi dari kelompok separatis. Para pengungsi itu ketakutan, kemudian lari sejauh mungkin dari permukiman mereka. Satgas 600 Modang inilah yang berhasil membawa mereka pulang dengan aman,” ungkap Mayjen Tri Budi.
Pencapaian apa yang telah diraih tersebut, Pangdam berpesan agar tidak membuat prajurit berbangga diri secara berlebihan, namun pesannya agar mengaplikasikan semangat juang mereka selama di medan perang dapat dilakukan di markas sendiri.
“Buktikan bahwa semangat itu tidak akan padam, bukan hanya saat tugas, tapi di manapun, kapanpun harus mampu menjadi teladan termasuk di daerah sendiri,” tutup orang nomor satu di Kodam VI/Mulawarman tersebut.