Oleh Anggito Yanuar Abimanyu
Saat ini sangat mudah bagi kita mengakses suatu informasi, perkembangan ini terjadi akibat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kehidupan masa kini. Tetapi perkembangan tersebut merupakan suatu permasalahan baru yang kita hadapi saat ini, khususnya masalah penyebaran hoaks atau informasi palsu yang saat ini banyak sekali kita temukan di media sosial, salah satunya yang menyasar institusi penting seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hoax tersebut yang meluas di laman media sosial sangat berpotensi merugikan reputasi serta kredibilitas TNI dan memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan masyarakat kepada TNI.

Kasus hoaks yang menyasar TNI adalah berita palsu tentang TNI yang akan melakukan operasi militer di wilayah tertentu. Hoaks tersebut tersebar begitu cepat melalui media sosial, meskipun tidak terbukti kebenaranya. Hoaks akan menciptakan ketakutan dan kegaduhan di kalangan masyarakat yang menyebabkan salah paham tentang peran dan tugas TNI sebagai pelindung masyarakat. Situasi ini menunjukkan betapa mudahnya berita palsu dapat menimbulkan ketegangan untuk sebuah institusi yang sejatinya berfungsi menjaga keamanan dan ketertiban.
Pengguna internet Indonesia mengandalkan media sosial sebagai sumber berita utama, namun, sangat sedikit dari mereka yang mengecek ulang kebenaran materi yang mereka baca. Menurut Riset Dailysocial.id (2018) mengurutkan media sosial Facebook, sebagai situs penyebaran disinformasi terbanyak (82,25%). Disusul oleh aplikasi pesan Whatsapp (56,55%).
Upaya penanganan hoaks yang dilakukan oleh pemerintah dan organisasi sosial di Indonesia patut diapresiasi. Kominfo bekerja sama dengan TNI dan institusi lainnya telah berupaya menangkal hoaks yang merugikan lembaga negara. Salah satu program yang diterapkan adalah Cyber Drone 9, yaitu program Kominfo yang memonitor dan menindak konten negatif, termasuk hoaks, di media sosial. Melalui Cyber Drone 9, Kominfo telah berhasil memblokir ribuan konten hoaks.
Selain itu, TNI sendiri mengambil langkah aktif dengan memanfaatkan media sosial resmi mereka untuk mengklarifikasi berita palsu dan memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Usaha ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat karena menunjukkan keterbukaan TNI dalam melawan berita-berita hoaks yang menyasar institusinya. Di tingkat internasional, perusahaan media sosial seperti Facebook dan Twitter juga mendapatkan penghargaan atas algoritma pengembangan dan sistem deteksi otomatis yang membantu menandai informasi yang tidak benar.
(Penulis adalah mantan Siswa PKL di Kogabwilhan III tahun 2022)